
Dalam Tradisi Jawa, ada beberapa ritual Paska Kematian yang biasa disebut Kenduri, Tahlilan, dsb.
Dua minggu yang lalu kami memperingati 40 hari kematian suami sepupu kami. Ada Kenduri (pengajian, tahlilan, ceramah oleh ustadz & makan²).
Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan kematian (Kenduri) :
● 3 hari : Nelung dina
● 7 hari : Mitung dina
● 40 hari : Matangpuluh dino
● 100 hari : Nyatus
● 1 tahun : Mendhak pisan
● 2 tahun : Mendhak pindho
● 1000 hari : Nyewu
Peringatan² paska kematian tsb. sering dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam. Padahal tidak ada ketentuan dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih. Kenduri kematian hari ke-3, 7, 40, 100 dan 1000 juga bukan warisan Hindu-Buddha. Mereka tidak memiliki tradisi seperti itu.
Lalu…, dari mana asal tradisi nenek moyang kita tsb ?
Mungkinkah berasal dari tradisi Austronesia ?
Masyarakat Austronesia, yang tersebar dari Madagaskar hingga Samudra Pasific, mempunyai tradisi kematian yang sangat beragam. Ada beberapa pola yang berulang :
1. Kematian dipandang sebagai proses transisi, bukan peristiwa yang selesai pada saat penguburan. Masyarakat purba Austronesia percaya bahwa orang mati tidak langsung lenyap. Roh mereka tetap ada dan berpindah ke alam lain.
Ada keyakinan bahwa arwah masih tinggal di sekitar rumah pada masa-masa awal setelah kematian, sebelum benar-benar pergi ke tempat peristirahatan terakhir.
2. Keluarga melakukan ritual berkala setelah kematian.
Sebagai salah satu contoh :
● Kenduri hari ke-3 dan ke-7 Diyakini sebagai masa transisi kritis di mana roh masih sangat dekat dengan lingkungan keluarga dan rumah duka.
● Kenduri hari ke-40 dan ke-100 diyakini sebagai tonggak penting pelepasan ikatan duniawi roh dari badan kasarnya yang telah hancur di dalam tanah.
3. Ada konsep bahwa hubungan antara orang mati dan keluarga yang masih hidup belum langsung berakhir.
4. Sesajen
Ada ritual pemberian makanan, persembahan (sesajen), atau jamuan untuk leluhur. Ritual dilakukan untuk memberi penghormatan agar arwah tenang dan tidak mengganggu keluarga yang hidup.
5. Pada sebagian masyarakat Austronesia, ada ritual lanjutan setelah interval waktu tertentu, termasuk penguburan kembali atau pemindahan tulang.
Pola semacam ini ditemukan di berbagai masyarakat Austronesia, dari Indonesia, Filipina, Melanesia sampai Polinesia. Proto-Austronesia sendiri berkembang ribuan tahun sebelum munculnya tradisi Islam di Nusantara.
Oleh para ulama penyebar Islam di Nusantara (seperti Wali Songo) memanfaatkan kebiasaan berkumpul masyarakat setempat, digunakan untuk memasukkan unsur ajaran Islam. Tradisi lokal tersebut mengalami proses akulturasi dengan Islam, sehingga ritual berkumpul dan selamatan kemudian diisi dengan tahlil, dzikir, doa, Al-Qur’an dan sedekah.
Jadi, tradisi peringatan kematian hari ke-3; 7; 40; hingga 100 hari di Nusantara adalah hasil akulturasi antara kepercayaan lokal Austronesia (animisme/dinamisme) dengan ajaran Islam yang masuk kemudian.
Tradisi asli Austronesia berfokus pada perjalanan arwah leluhur, sementara Islam mewarnainya dengan doa dan sedekah.
Proses akulturasi inilah yang menarik. Bagaimana para penyebar Islam di Jawa mengubah sebuah tradisi sosial yang sudah ada menjadi tradisi yang diberi makna Islam, tanpa harus menghapus seluruh bentuk budayanya.
Jadi.., kira² proses akulturannya seperti ini :
–> Budaya Austronesia
–> Ritual lokal masing² daerah
–> Budaya Jawa pra-Islam
–> Ritual selamatan/ritual kematian
–> Islamisasi
–> tahlil + doa + sedekah
–> Peringatan 3; 7; 40; 100; 1000 hari Paska Kematian.
Demikianlah kira² proses agama itu ber evolusi. Ritual² keagamaan berkembang mengikuti jaman & daerahnya masing².
● Kristen berkembang menjadi banyak aliran.
● Islam berkembang menjadi banyak Mahsab.
● Buddha berkembang menjadi banyak aliran.
● Hindu Bali juga sudah banyak beda ritual dari Hindu Indianya.
Jakarta, Minggu Wage 30.08.26
꧋ꦤꦸꦂꦱꦺꦠꦲꦂꦢꦶꦥꦸꦠꦿꦤ꧀ꦠꦺꦴ꧉
(Nurseto Ardiputranto)
———-
Narasi² terkait :
NYADRAN
https://forsains.id/perspektif/nyadran-sebuah-sinkretisme-di-jawa-tengah/
———-
Ref.1
Tradisi Tahlilan Bukan Warisan Hindu-Budha https://share.google/AmJR6t0SLDckrYpcO
Ref.2
https://journal.ugm.ac.id/kawistara/article/view/72740/0?utm
Ref.3
Pasiyam and 40 Days: Filipino Tradition of Prayers
https://www.backpackingphilippines.com/2009/12/pasiyam-40-days-filipino-tradition-of.html?m=0&utm
Ref.4
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/43954?utm







Add comment