ForSains

Sains dan Reaksi Intelektual Islam

Oleh: Abdullah Wong

(Catatan untuk artikel  Lukas Luwarso, “Apakah Agama Ancaman Bagi Sains?”)

Mungkin tak semua mafhum bahwa pelaku agama dan agama itu sendiri adalah dua hal yang berbeda. Agama bisa disebut jalan atau sikap hidup yang diyakini kaum beriman berasal dari Firman Tuhan. Sementara pelaku agama adalah pihak yang menjalankan doktrin agama yang meniscayakan melewati gapura tafsir.

Ketika agama berlangsung sebagai bagian tak terpisahkan dari gerak kebudayaan manusia, agama juga mengalami dinamika dan sejumlah perubahan, sebagai konsekuensi dari kemengaliran kebudayaan.

Sejatinya, yang berubah adalah “tafsir” atas agama dan Tuhan. Sementara Tuhan yang Mutlak tak akan pernah berubah. Dia senantiasa tan kena kinaya apa.

Perubahan tafsir atas Tuhan juga berlangsung dalam peradaban Islam. Jika merujuk di sekitar Abad ke-19, muncul reaksi bermacam-macam dari para ulama ketika ilmu modern mulai merembes ke dunia Islam. Hal ini disebabkan ilmu modern tidak datang sendirian. Ilmu modern juga datang bersama dengan pandangan filosofis yang memberikan pengaruh besar kepada para intelektual Islam. Tak heran kemudian terdengar ragam slogan positivistik di kancah dunia Islam.

Reaksi intelektual Islam terhadap ilmu modern tersebut mungkin dapat dikategorikan dalam empat kelompok:

(1) Kelompok minoritas ulama religius yang enggan bersentuhan dengan ilmu modern. Mereka menganggap ilmu modern bertentangan dengan ajaran agama Islam, sedangkan masyarakat Islam harus mengikuti ajaran Islam secara benar. Oleh karenanya, mereka pun mengharuskan umat Islam memiliki ilmu sendiri dan tidak mengikuti ilmu modern;

(2) Kelompok intelektual Islam yang banyak mengadopsi ilmu modern dan mengampanyekan cara pandang empiris terhadap dunia. Menurut mereka, menguasai ilmu modern merupakan jalan tunggal untuk melepaskan dunia Islam dari kemandekan. Hal itu dikarenakan mereka memandang ilmu modern sebagai satu-satunya sumber riil pencerahan bagi dunia Islam;

(3) Para ulama Islam yang mengakui peran sentral ilmu modern dalam memajukan Barat dan mendukung upaya untuk mengasimilasi ilmu modern dengan tradisi Islam. Namun demikian, mereka tetap memiliki perhatian khusus terhadap masalah keagamaan. Kelompok ini terdiri dari mayoritas intelektual muslim yang beriman baja.

Pada gerbong ini, para pemikir Islam, seperti Seyyed Jamal al-Din dan Rasyid Reda, berusaha memberikan justifikasi ilmu modern dengan dasar-dasar agama. Mereka meyakini bahwa ilmu modern adalah kelanjutan dari ilmu yang dihasilkan peradaban Islam. Karenanya, mereka menganjurkan umat Islam memelajari ilmu modern agar dapat menjaga independensi mereka dan dapat menyelamatkan mereka dari kritik yang dilancarkan para orientalis dan para intelektual Islam yang memandang miring terhadap Islam;

Para pemikir Islam ini berusaha mencari jejak-jejak penemuan ilmu penting di dalam Al-Qur’an dan tradisi Islam. Dalam hal ini mereka termotivasi oleh kehendak untuk menampakkan keselarasan ilmu modern dengan ajaran Islam. Mereka juga ingin membuktikan bahwa penemuan ilmu modern dapat digunakan untuk menguatkan paparan berbagai aspek keimanan.

Hal itu juga karena mereka yakin bahwa beberapa hasil yang dicapai oleh ilmu modern telah disebutkan terlebih dahulu di Al-Qur’an dan oleh Nabi Muhammad empat belas abad yang lalu, menjadi bukti keistimewaan wahyu kenabian. Pandangan semacam itu masih tetap hidup di dalam komunitas umat Islam hingga saat ini.

Para ulama yang berusaha menginterpretasikan ajaran teologis Islam dalam perspektif ilmu modern. Satu di antaranya adalah ulama India, Sir Seyyed Ahmad Khan. Seorang ulama yang menggulirkan teologi natural untuk menginterpretasikan kembali prinsip dasar agama Islam dalam bingkai ilmu modern dengan cara memberikan tafsiran ilmiah terhadap Al-Qur’an.

(4) Terakhir, para filsuf Islam yang membedakan penemuan ilmu modern dengan pandangan filosofis ilmu modern. Bahwa saat mereka menganjurkan pencarian rahasia-rahasia alam semesta dengan ekperimentasi dan teori-teori ilmiah, mereka juga mengangkat panji-panji perlawanan terhadap berbagai penafsiran empiristik dan matrealistik yang diatasnamakan ilmu.

Dalam pandangan mereka, ilmu pengetahuan memang dapat mengungkapkan beberapa aspek dunia fisik. Namun demikian, personalitas ilmu pengetahuan tidak dapat memberikan gambaran sempurna terhadap realitas. Untuk mencapai kesempurnaan ilmu pengetahuan, menurut mereka, harus dilekatkan dengan cara pandang Islam terhadap dunia. Ayatullah Muthahhari adalah filsuf yang berada di barisan keempat.

Membaca tulisan Lukas Luwarso, kita menemukan fakta bahwa Islam pada masanya pernah menempatkan sains sebagai bagian dari pandangan keagamaan. Tapi ada yang luput dari sorotan Lukas. Bahwa para sarjana muslim yang akrab bahkan ekspert dalam sains adalah pribadi-pribadi yang dikenal sangat taat dalam  menjalani laku agama. Bahkan para penemu brilian di bidang sains itu juga dikenal sebagai para sufi yang giat menjalani latihan-latihan spiritual (riyadlah mujahadah), hingga sikap hidup yang zuhud (asketik).

Secara bersamaan, sebagai sufi, mereka memandang bahwa sajadah kebaktian kepada Tuhan tak melulu soal ritus yang berorientasi kepada self salvation. Lebih jauh mereka meyakini, memanfaatkan seluruh khazanah semesta untuk dimanfaatkan seluas-luasnya kepada umat adalah ritus yang tak kalah penting sebagai konsekuensi wakil Tuhan di bumi (khalifah fi al-ardh).

Tak heran, temuan-temuan sains mereka berasal dari perenungan dan penyingkapan (kasyf) setelah melalui penelitian (istiqra’) yang mendalam dan melelahkan.

Belakangan, makin langka ditemukan sarjana muslim yang akrab dengan sains karena menganggap bahwa sains bukan sebagai ayat-ayat Tuhan. Penyingkapan juga makin langka karena sebagian besar kaum muslim tenggelam dalam kehidupan yang materialistik.

Bahkan dalam beragama pun dijalani secara material dan transaksional. Kalau pun belakangan muncul para sufi, mereka juga tenggelam dalam keasyikan mistikal yang melangit sehingga lupa peran dirinya sebagai makhluk budaya yang bersinergi dengan sains dan peradaban.

 

Lukas Luwarso

Lukas Luwarso

1 comment

Ukuran Huruf